Peran Pohon Karet dalam Penyerapan Karbon dan Mitigasi Perubahan Iklim

Di tengah meningkatnya kekhawatiran global mengenai pemanasan global dan perubahan iklim, perhatian dunia kini tertuju pada solusi berbasis alam (nature based solutions).

Baca Juga:

Selama ini, pohon karet (Hevea brasiliensis) lebih sering dipandang semata-mata sebagai komoditas ekonomi penghasil lateks untuk industri ban dan otomotif. Namun, di balik nilai ekonomisnya, perkebunan karet memiliki peran ekologis yang sangat vital, khususnya sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang efektif.

Hutan Buatan Penyelamat Lingkungan

Secara morfologis, pohon karet adalah tanaman tahunan dengan ukuran besar dan tajuk yang rimbun. Perkebunan karet sering kali disebut sebagai "hutan buatan" karena kemampuannya meniru fungsi hutan alam dalam siklus karbon. Melalui proses fotosintesis, pohon karet menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer dan mengubahnya menjadi biomassa (batang, dahan, akar, dan daun) serta melepaskan oksigen (O2). 

Studi menunjukkan bahwa perkebunan karet memiliki kemampuan penyerapan karbon yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman pertanian semusim, dan bahkan dapat bersaing dengan hutan sekunder dalam hal laju penyerapan karbon bersih per hektare.

Penyimpanan Karbon Jangka Panjang

Keunggulan pohon karet terletak pada siklus hidupnya yang panjang, yakni sekitar 25 hingga 30 tahun. Selama masa produktif ini, pohon karet terus mengakumulasi karbon dalam biomassanya. Peran ini tidak berhenti saat pohon sudah tidak produktif menghasilkan getah. Kayu karet (rubberwood) kini telah menjadi bahan baku utama dalam industri furnitur dan perabotan rumah tangga.

Ketika kayu karet diolah menjadi meja, kursi, atau lemari, karbon yang tersimpan di dalam kayu tersebut akan "terkunci" selama puluhan tahun lagi dan tidak dilepaskan kembali ke atmosfer. Ini berbeda dengan tanaman pertanian lain yang sisa tanamannya sering kali dibakar atau membusuk dengan cepat, yang justru melepaskan kembali emisi karbon.

Potensi Agroforestri dan Rehabilitasi Lahan

Pohon karet juga memiliki peran strategis dalam rehabilitasi lahan kritis. Tanaman ini mampu tumbuh di tanah yang memiliki tingkat kesuburan rendah dan tahan terhadap kondisi kering. Dengan menanam karet di lahan yang terdegradasi atau lahan tidur, kita dapat memulihkan fungsi tanah sekaligus menyerap karbon.

Selain itu, penerapan sistem agroforestri (tumpangsari) di mana karet ditanam bersama tanaman lain seperti kopi, kakao, atau tanaman pangan dapat meningkatkan cadangan karbon total dalam satu lahan. Sistem ini menciptakan lapisan vegetasi yang bertingkat, yang tidak hanya menyerap lebih banyak karbon tetapi juga menjaga kelembapan tanah dan mencegah erosi.

Tantangan dan Kesimpulan

Meski memiliki potensi besar, perlu diakui bahwa konversi hutan alam primer menjadi perkebunan karet monokultur tetap berdampak negatif pada biodiversitas. Oleh karena itu, kunci dari mitigasi perubahan iklim melalui pohon karet adalah pengelolaan berkelanjutan. Fokusnya harus pada peremajaan kebun karet tua dan pemanfaatan lahan kritis, bukan pembukaan hutan baru.

Sebagai kesimpulan, pohon karet adalah aset ganda bagi manusia. Ia adalah pahlawan ekonomi bagi jutaan petani, sekaligus agen mitigasi perubahan iklim yang tangguh. Mengelola perkebunan karet dengan bijak berarti kita turut menjaga stabilitas iklim bumi untuk masa depan.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama