Rabu, 11 Oktober 2017

Inilah Cara Jitu Budidaya Jamur Tiram


Budidaya jamur tiram kerap mengalami kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Dalam budidaya jamur tiram ada beberapa faktor yang harus diperhatikan seperti lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Jika faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan kegagalan.

Jamur tiram putih berwarna putih agak krem dengan diameter tubuh 3-14 cm. Jamur ini memiliki miselium.  Tubuh buah jamur inilah yang bernilai ekonomis tinggi dan menjadi tujuan dari budidaya jamur tiram. Teknik budidaya jamur tiram mulai dari persiapan hingga pasca panen sangat perlu diperhatikan agar pelaku usaha benar-benar memahami sehingga lebih menguasai dalam pemeliharaan maupun pengendalian hama tanaman.

Ada beberapa syarat tumbuh jamur tiram yang harus anda perhatikan dalam budidaya jamur tiram, seperti :
  • Temperatur Yang Diperlukan
Serat (miselium) jamur tiram putih tumbuh dengan baik pada kisaran suku 23 – 28 derajat celcius. Jika suku lebih rendah dari 23 derajat maka pertumbuhan miselium akan lebih lambat. Sementara untuk jamur tiram yang berbentuk cangkang, perlu suhu berkisar 13 – 15 derajat selama 2-3 hari. Jika suhu tidak bisa serendah ini maka pertumbuhan cangkang bakal berlangsung lebih lama.
  • Kelembaban Yang Diperlukan
Kandungan air menjadi sangat penting bagi jamur untuk tumbuh. Jamur ini bakal kesulitan tumbuh jika kadar airnya kurang dari 60 persen. Tetapi terlalu banyak air juga bakal membunuhnya. Maka biasanya para pembudidaya dengan rutin akan menyemprotkan air untuk menjaga kelembaban media jamur.
  • Cahaya
Cahaya matahari secara langsung dapat merusak dan menyebabkan kelayuan yang mengakibatkan ukuran tudungnya menjadi kecil. Jamur ini hanya memerlukan cahaya yang merata, namun juga tidak bisa berada dalam keadaan gelap gulita. Maksudnya ruangan penyimpan jamur harus tetap memiliki cahaya pada waktu siang hari. Cahaya yang dibutuhkan jamur ini untuk menumbuhkan tubuh buah. Untuk anda yang memelihara jamur di rumah, sebaiknya menempatkan jamur di ruangan yang sejuk, dan tidak terkena matahari tetapi tidak panas di kala siang hari. Untuk menciptakan suhu yang seperti diinginkan jamur itu, anda dapat memberi penutup dengan tertentu sehingga jamur tidak kepanasan dan tetap mendapat sinar tetapi tidak langsung dari matahari.
  • Udara
Sebagai tanaman saprofit fakultatif aerobic, jamur tiram putih membutuhkan oksigen semacam senyawa untuk pertumbuhannnya. Karna apabila  kekurangan oksigen maka jamur akan tumbuh kecil dan mudah layu.
  • Derajat Keasaman (pH)
Miselium jamur tiram putih ini hanya dapat tumbuh optimal pada media pH yang sedikit asam berkisar antara 5,0-6,5. Nilai pH medium untuk produksi metabolisme-nya sangat dibutuhkan, seperti produksi asam organik. Ingat, kondisi yang terlalu asam bisa menyebabkan pertumbuhan jamur terganggu dan terkontaminasi jamur lain dan hal ini bisa menimbulkan kematian. Jamur akan tumbuh dengan optimal apabila ditempatkan pada pH lingkungan yang mendekati normal.
  • Media Tanam
Media yang dibutuhkan miselium untuk tumbuh adalah ampas gergaji (atau ampas tebu) yang dibuat dalam bentuk silinder, sumber gula (tepung-tepungan), kapur, pupuk P dan air.

Baca Juga :
 Budidaya Lobster Menggunakan Kolam Terpal Plastik
 Cara Menanam Bunga Melati Dengan Mudah!
 Tips Menanam Kacang Hijau Dengan Benar
 Manfaat & Kandungan Gizi Pada Beras Merah

  • Ketinggian Tempat
Jamur tiram akan tubuh subur apabila ditempatkan pada ketinggian 700-800 meter dari permukaan laut. Pada ketinggian ini iklim yang ada sangat tepat sehingga mendukung pertumbuhan miselium. Tetapi bukan berarti pada dataran yang rendah jamur tak bisa tumbuh. Yang terpenting jamur-jamur ini mendapatkan suku dan kelembaban yang sesuai dengan kebutuhannya. Utamanya, hawa yang sejuk dan tidak terkena sinar matahari seara langsung.
  • Bibit Jamur
Umumnya pembibitan jamur dilakukan secara khusus oleh para pembibit. Soalnya, pembibitan butuh alat dan proses yang steril. Bibit jamur tiram yang disebut F3 ini sangat rentan terhadap kontaminasi.
  • Penanaman Dan Pemeliharaan Jamur Tiram
Salah satu penentu keberhasilan budidaya jamur tiram adalah kebersihan dalam melakukan proses budidayaan, baik kebersihan tempat, alat, maupun pekerjanya. Karena kebersihan adalah hal yang harus dipenuhi. Untuk itu, tempat untuk penanaman sebaiknya harus dibersihkan dahulu dengan sapu, lantai dan dindingnya dibersihkan menggunakan disinfektan. Alat yang digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol dan dipanaskan di atas api lilin. Selain itu, selama melakukan penanaman para petani harus menggunakan masker. Hal ini bertujuan untuk memperkecil terjadinya kontaminasi.

Dalam budidaya jamur tiram hal yang juga harus diperhatikan adalah menjaga suhu dan kelembaban ruang agar tetap pada standar yang dibutuhkan. Jika cuaca lebih kering, panas, atau berangin, tentu akan mempengaruhi suhu dan kelembaban dalam kumbung penanama jamur sehingga air cepat menguap. Bila demikian, sebaiknya frekuensi penyiraman ditingkatkan. Jika suhu terlalu tinggi dan kelembaban kurang, bisa membuat tubuh jamur sulit tumbuh atau bahkan tidak tumbuh. Oleh karena itu, sellu kontrol sirkulasi udara di dalam kumbung agar jamur tidak cepat layu dan mati. Pengaturan sirkulasi dapat dilakukan dengan cara menutup sebagian lubang sirkulasi ketika angin sedang kencang. Sirkulasi dapat dibuka semua ketika angin sedang dalam kecepatan normal. Namun, yang terpenting dalam budidaya jamur ialah jangan sampai jamur kekurangan udara segar.
  • Pengendalian Hama Penyakit Pada Jamur Tiram
Selain pemeliharaan baglog, dalam budidaya jamur tiram juga perlu dilakukan perawatan untuk mencegah atau mengendalikan hama dan penyakit yang mungkin bisa menyerang jamur tiram. Hama dan penyakit yang menyerang jamur tiram dapat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan jamur itu sendiri. Sehingga antara tempat budidaya yang satu dan yang lain, serangan hama penyakit kemungkinan dapat berbeda-beda.
  • Hama Penyakit Jamur Tiram
- Ulat, merupakan hama yang paling banyak ditemui dalam budidaya jamur tiram. Ada tiga faktor yang meyebabkan munculnya hama pada jamur yaitu faktor kelembaban, kotoran dari sisa pangkal, bonggol atau tangkai jamur dan jamur yang tidak terpanen, serta lingkungan yang tidak bersih.

Hama ulat muncul ketika kelembaban udara berlebihan. Oleh sebab itu, hama ulat ini sering kita jumpai ketika musim hujan. Untuk mengatasi hama ini kita dapat mengatur sirkulasi udara. Dengan cara menghentikan penyiraman kumbung sementara dan membuka lubang sirkulasi.

Pangkal jamur yang tidak ikut kepanen di baglog juga dapat menimbulkan binatang kecil seperti kepik dan terjadi munculnya hama ulat. Untuk jamur yang tidak ikut terpanen dikarenakan jamur tidak muncul keluar sehingga luput saat pemanenan dan menjadi busuk. Hal ini menyebabkan munculnya ulat. Ketika melakukan pemanenan jamur pastikan di baglog sudh bersih sehigga tidak ada pangkal atau batang jamur yang tidak terpanen.

Cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani jamur terserang hama ulat adalah dengan menyemprotkan formalin di kubung ataupun didaerah sekitar kumbung.

- Untuk hama seperti semut, Laba-laba, dan Kleket (sejenis moluska),  dapat diatasi dengan cara mekani seperti membongkar sarangnya dan menyiramnya dengan minyak tanah. Sedangkan untuk kemis hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida. Hindari penggunaan insektisida jika serangan tidak parah karena produk jamur merupakan produk organik. Keuntungan dari mengatasi hama pada jamur yang dilakukan dengan cara mekanis adalah dapat memangkas biaya selama perawatan dan juga ramah lingkungan. Sementara itu hama kleket kerap dijumpai pada mulut baglog, untuk mengatasinya dapat dilakuan pengambilan dengan tangan.
  • Pemanenan
Panen jamur tiram bisa dilakukan 2 sampai 3 kali dalam seminggu atau 9 kali dalam waktu 3 bulan, bergantung pada cara pemeliharaan/penyiraman jamurnya juga kebersihan kumbungnya.

Jamur tiram sebaiknya disimpan pada suhu 1-5°C dan disemprot dengan larutan Na-bisulfat 0,1 – 0,2% supaya kesegarannya bisa dipertahankan atau diawetkan dengan pemberian senyawa kimia, seperti  K-bikarbonat dan K-meta-bisulfida, K-bikarbonat, sulfida, asam nitrat, dan garam dapur.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar